
Faith makes all things possible
Hope makes all things work
Love makes all things beautiful
May you have all of the three
Happy Iedul Fitri
Minal Aidin Wal Fa Idzin


Faith makes all things possible
Hope makes all things work
Love makes all things beautiful
May you have all of the three
Happy Iedul Fitri
Minal Aidin Wal Fa Idzin

Posted by nona.karin at 07:29 0 comments
saat ini saya sedang bertanya-tanya, pernah nggak sih pejabat negara betul-betul mikirin rakyatnya? kalau YA, bagaimana cara dia mikirin?! apa dia tau rasanya terjebak macet sambil berdiri berdesakan selama dua jam di dalam sebuah bus trans jakarta yang lagi 'bermasalah' hingga jalannya tersendat-sendat?sedikit cerita tentang trans jakarta. mungkin kehadiran bus trans jakarta atau busway merupakan sebuah penolong bagi beberapa masyarakat jakarta dan sekitarnya, khususnya bagi diri saya pribadi yang merasakan langsung manfaat dari fasilitas tersebut, untuk itu saya ucapkan terimakasih kepada seluruh pihak yang udah turut serta merancang dan membangun fasilitas tersebut.
tetapi, dalam satu minggu ini, sudah dua kali saya menaiki bus trans jakarta yang sedang dalam keadaan 'tidak fit' dan yang terparah adalah kemarin malam. bus berjalan dengan tersendat-sendat dan sangaaaaaaaaaat lambat, padahal jalur bus nya sendiri sangat lengang. setiap berhenti di shelter, bus bukannya mengangkut penumpang malah terpaksa harus 'membuang' setengah jumlah penumpang yang ada dalam bus agar beban bus menjadi lebih ringan dan 'diharapkan' dapat melaju dengan normal.
manusia yang berusaha, mesin yang berkehendak. walaupun udah dikurang-kurangi jumlah penumpangnya, tetap aja si bus nggak bisa melaju dengan lancar. ironisnya, di saat bus dalam masalah dan berhenti mendadak di persimpangan hingga membuat beberapa penumpang (khususnya ibu-ibu) menjadi sedikit panik dan kesal, lewatlah si-bapak-yang-jabatannya-sudah-saya-sebut-di-awal-tulisan ini lengkap dengan para pasukannya yang bermobil-mobil dan bermotor-motor. heran kenapa heboh sekali pasukannya, serasa ada pawai 17-an.
well, kalau bapak ingin memikirkan rakyatnya tapi nggak pernah nyobain naik bus trans jakarta, sini sini saya aja yang ngasih tau kalau bus trans jakarta sekarang ini udah banyak yang nggak layak jalan. mohon si bapak memerintahkan bawahannya buat memperbaiki fasilitas-fasilitas umum yang ada -bukan hanya bus trans jakarta- demi kenyamanan bersama. saya bisa nyaman di perjalanan, si bapak juga nyaman nggak saya maki-maki di blog. kan biar adil, saya nggak nuntut harus naik kendaraan yang sama dengan yang dinaiki para pejabat lengkap dengan pengawalan (ya emang nggak mungkin juga), yang penting bus alias fasilitas umum yang ada dalam keadaan bagus, sehat dan jalannya nggak tersendat-sendat. OK?!

Posted by nona.karin at 12:30 2 comments
Labels: empty talk, grumble


Posted by nona.karin at 20:00 7 comments
what happen if you knowing your own future?
inilah yang coba digambarkan dalam film yang dibintangi oleh pria-tua-tampan, Nicolas Cage. i love him. i love all handsome man living on earth.
cerita berawal di tahun 1959, di sebuah SD di Massachusetts, ketika seorang guru meminta murid-muridnya membuat sebuah gambar di atas selembar kertas yang nantinya akan dikubur dalam sebuah time capsule selama 50 tahun. setiap murid menggambar apa yang mereka pikirkan, kecuali Lucinda Embry, yang justru memenuhi kertas dengan deretan angka.
kini (2009), 50 tahun setelah dikubur, time capsule pun dibuka. setiap murid mendapatkan satu kertas. kertas aneh milik Lucinda jatuh ke tangan Caleb Koestler (Chandler Canterbury). he took that home and give it to his father, Prof. John Koestler (Nicolas Cage).
Caleb yakin ada sesuatu yang tersimpan dibalik deretan angka buatan Lucinda itu. John yang awalnya nggak percaya akhirnya mulai meneliti angka-angka tersebut.susunan angka pertama yang diteliti adalah 91120012974, dibantu Google, maka angka itu memiliki arti bahwa 2.974 jiwa tewas dalam peristiwa 11 september 2001. deretan angka selanjutnya juga menunjukkan seluruh peristiwa dunia yang menelan korban jiwa. semua peristiwa itu tepat terjadi setelah kertas milik Lucinda dibuat.
sampai akhirnya, tersisa beberapa angka yang belum menjadi peristiwa. angka-angka tersebut merujuk kepada tiga tanggal, artinya akan terjadi 3 peristiwa besar lagi.
John berupaya keras mencegah ketiga peristiwa itu terjadi. namun dua peristiwa besar gagal dicegahnya dan tetap berjalan seperti yang ditulis Lucinda. ketika ia mengetahui apa yang sekiranya akan terjadi dalam peristiwa ketiga, peristiwa terakhir yang tertulis dalam kertas Lucinda, John terus mencari petunjuk-petunjuk yang tersisa untuk menyelamatkan diri, karna peristiwa ini lebih besar dari sebelumnya dan meleibatkan lebih banyak manusia.
apa sih peristiwa itu? let the movie tell ya!
time to comment. 4 stars buat film ini. Nicolas Cage selalu ok. filmnya juga ok, namun endingnya kurang ok buat saya.

Posted by nona.karin at 11:32 7 comments
saya sangat menghargai perbedaan dan menjunjung tinggi pemikiran bahwa setiap orang punya perspektif yang berbeda. orang tua saya pun menganut sistem nilai yang sama, anaknya dibebaskan berbicara dan mengutarakan pendapat. catat, hanya sebatas berbicara dan mengutarakan pendapat. bukan berarti boleh melakukan hal sesuka hati di luar keputusan mereka. ternyata nggak semua hal bisa dikompromikan. atas nama "demi yang terbaik untuk anak", tiap detil kehidupan saya pun dinilai. pada akhirnya, nggak ada lagi yang namanya beda individu beda perspektif.
seorang teman berkata : "you must see ini mother's perspective". ya, but im not her. kalaupun saya dipaksa melihat dari sudut pandang orang tua, pasti mereka begitu karna ingin yg 'terbaik' buat sang anak. tapi apakah 'yang terbaik' menurut orang tua juga berarti 'yang terbaik' untuk anak? hey dear! sebenernya siapa sih yg menjalani kehidupan? bukannya nggak ada orang yg lebih paham tentang kita selain diri kita sendiri? (it's my perspective)
jadi, dalam menentukan hidup seorang anak, perspektif siapa yg harus digunakan? perspektif orang tua sebagai pembuat kebijakan dan penyedia fasilitas hidup? atau perspektif si anak sebagai pelaksana kehidupannya sendiri?
sama saja halnya jika bicara soal negara. semua orang punya perspektif masing-masing mengenai apa yg terbaik buat negara. dan lagi-lagi, semua bicara atas nama "demi yang terbaik untuk negara". si menteri keuangan bilang A, si presiden bilang B, sedangkan si petani bilang C. lalu perkataan siapa yg harus dibenarkan? sementara urusan negara bukanlah urusan menteri keuangan semata, bukan juga urusan tentang presiden seorang, tapi ini urusan semua makhluk hidup dalam negara yang mencakup jajaran tertinggi pemerintahan hingga petani, pengusaha, pengamen, karyawan, ibu rumah tangga, fakir miskin dan lain sebagainya.
lagi, dalam menentukan hidup sebuah negara, perspektif siapakah yang harus digunakan?

Posted by nona.karin at 12:49 11 comments
Labels: empty talk, life